SMA Negeri 3 Bandung Luncurkan Kokurikuler STEM Berbasis SDGs, Usung Gerakan Sekolah Bebas Sampah

Bandung — SMA Negeri 3 Bandung menyelenggarakan program Kokurikuler STEM Berbasis SDGs pada tahun ajaran 2026/2027. Program yang disusun Tim Kurikulum ini melibatkan seluruh siswa kelas X, XI, dan XII dengan tema Sekolah Bebas Sampah: Inovasi STEM untuk Ekonomi Sirkular dan Gaya Hidup Berkelanjutan. Kegiatan berlangsung sejak 10 Agustus hingga 2 Oktober 2026.

Dokumen Program Kokurikuler STEM Berbasis SDGs yang disusun Tim Kurikulum SMA Negeri 3 Bandung

Apa itu Kokurikuler STEM Berbasis SDGs?

Kokurikuler merupakan kegiatan belajar yang menguatkan pembelajaran intrakurikuler di kelas. Di SMA Negeri 3 Bandung, kokurikuler dirancang dengan memadukan dua kerangka besar, yaitu pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk dicapai pada 2030.

Melalui pendekatan project-based learning dan inquiry-based learning, siswa diajak mengenali isu nyata di lingkungan sekolahnya, mengumpulkan data, lalu merancang solusi berbasis sains dan teknologi. Tahun ini, isu yang diangkat adalah persoalan sampah di sekolah, yang dijabarkan ke dalam tiga sub tema:

  • SDG 12.3: mengurangi sampah makanan dan plastik.
  • SDG 12.5: mengurangi timbulan sampah melalui pencegahan, pengurangan, daur ulang, dan penggunaan kembali.
  • SDG 11.6: mengidentifikasi isu pengelolaan sampah sekolah dan membangun ekonomi sirkular.

Tujuan program, tema, dan sub tema kokurikuler sebagaimana tercantum dalam dokumen program.

Untuk apa program ini dijalankan?

Dokumen program menetapkan tiga tujuan utama. Pertama, mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi siswa melalui proyek lintas mata pelajaran. Kedua, mengintegrasikan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika ke dalam konteks nyata yang relevan secara lokal maupun global sesuai target SDGs. Ketiga, menumbuhkan kesadaran SDGs serta sikap peduli lingkungan, tanggung jawab sosial, dan kemampuan memecahkan masalah berbasis bukti.

Bagaimana pelaksanaannya?

Kokurikuler tidak memiliki jadwal khusus. Setiap mata pelajaran mengalokasikan 1 JP per minggu, sehingga kegiatan berjalan beriringan dengan pembelajaran reguler. Kelas X dan XI menjalani delapan pertemuan, sedangkan kelas XII empat pertemuan, melalui tahapan orientasi, eksplorasi, elaborasi, aksi, presentasi, dan refleksi.

Setiap sub tema dibimbing oleh guru dari kelompok mata pelajaran yang berbeda, mulai dari Biologi, Kimia, Fisika, dan Matematika hingga Ekonomi, Sosiologi, Geografi, Sejarah, Bahasa Indonesia, dan PJOK. Wali kelas berperan sebagai koordinator yang memimpin refleksi dan monitoring setiap Jumat pagi.

Pembagian sub tema, kelompok mata pelajaran, dan dimensi profil lulusan untuk setiap angkatan.

Guru memberikan arahan kegiatan kokurikuler di depan kelas.

Manfaat bagi warga sekolah

Bagi siswa, program ini menjadi ruang untuk belajar dari masalah nyata di sekitar mereka. Siswa berlatih bekerja dalam tim, mengolah data, merancang solusi, dan mempresentasikan gagasannya. Program ini juga menjadi sarana pembiasaan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH) yang dipantau melalui jurnal harian.
Bagi guru, kokurikuler membuka ruang kolaborasi lintas mata pelajaran dalam membimbing satu proyek bersama. Bagi sekolah, gagasan dan produk siswa menjadi bahan berharga untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih baik.
Dampak yang mulai terlihat
Dampak program tampak dari ragam karya yang dihasilkan siswa. Hingga pertengahan Oktober 2026, tercatat 68 karya dari kelas X, XI, dan XII. Karya tersebut antara lain komposter Takakura berbasis sensor, budidaya maggot pengurai sisa makanan, eco-enzyme dari limbah kulit buah, paving block dari sampah plastik, briket dari daun kering, bioplastik dari pati kulit pisang dan umbi kimpul, lilin aroma dari minyak jelantah, hingga tempat sampah pemilah otomatis berbasis Arduino.

Sebagian produk kokurikuler siswa SMA Negeri 3 Bandung, dari budidaya maggot hingga tempat sampah berbasis Arduino.

 

Kelompok kelas X-5 bersama guru menunjukkan bioplastik dari limbah kulit pisang.

 

Lilin aroma dari minyak jelantah, salah satu karya kokurikuler kelas X-5.

Sebagian karya juga berupa kampanye dan kajian, seperti audit kondisi pengelolaan sampah sekolah, survei literasi pemilahan sampah, dan gerakan membawa wadah pribadi. Ragam karya ini menunjukkan bahwa isu sampah tidak lagi dipandang sebagai urusan petugas kebersihan semata, melainkan tanggung jawab bersama warga sekolah.

Siswa kelas XII-9 bekerja dalam kelompok kokurikuler bersama guru pendamping.

Keunggulan program

  • Melibatkan seluruh siswa. Ketiga angkatan bergerak di bawah satu tema yang sama, sehingga terbentuk gerakan bersama satu sekolah.
  • Lintas mata pelajaran. Satu proyek dibimbing guru dari berbagai bidang, sehingga siswa melihat keterkaitan antarilmu secara utuh.
  • Kontekstual. Masalah yang dikaji berasal dari lingkungan sekolah sendiri, sehingga solusinya dapat langsung diterapkan.
  • Terintegrasi dengan pembelajaran reguler. Tanpa jadwal khusus, kokurikuler berjalan efisien dengan alokasi 1 JP per mata pelajaran setiap minggu.
  • Penilaian menyeluruh. Nilai akhir memadukan dimensi profil lulusan (40%), pembiasaan 7 KAIH (30%), dan produk STEM-SDGs (30%), sehingga proses dan karakter dihargai sama pentingnya dengan hasil.
  • Selaras dengan standar nasional dan internasional. Program ini sejalan dengan Kurikulum Merdeka sekaligus integrasi kurikulum Cambridge yang diterapkan di SMA Negeri 3 Bandung.

Sebagaimana tertulis dalam penutup dokumen program, kokurikuler ini bukan hanya tentang kegiatan, tetapi tentang proses tumbuh, belajar, dan berkolaborasi. Melalui program ini, SMA Negeri 3 Bandung berharap lahir generasi yang cakap STEM, peduli SDGs, dan siap berkontribusi bagi masa depan yang lebih baik.